Begini Cara Penyajian Pempek yang Benar

Macam-macam bentuk Pempek
Macam-macam bentuk Pempek

Masakan khas Palembang berbahan dasar ikan tenggiri dan bumbu cuka sangatlah lezat, apalagi kalau cuka tersebut rasanya pedas tanpa harus ditambah sambal. Kalau kata partner saya yang sangat chauvinis dengan ke-Palembang-annya, “pempek itu nggak penting dengan rasa dan bentuk pempeknya, yang penting adalah cuko-nya”.

Bentuk pempek memang bermacam-macam, yang paling terkenal itu pempek kapal selam dan pempek lenjer. Padahal selain kedua primadona itu, ada lagi pempek yang tidak kalah enak yaitu adaan, kulit, keriting, pistel (pempek isi pepaya muda) dan lenggang (pempek yang dipotong-potong dan dicampur dengan telor seperti telor dadar).

Nah, menurut orang Palembang asli, cuka pempek yang enak dan benar adalah cuka yang dibuat dari asam jawa tanpa ada tambahan cuka buatan dan agak kental. Selain asam jawa, bahan dari cuka ditambah dengan tongcai yaitu sayuran yang di asinin (biasanya tongcai dari sawi atau lobak) dan ebi yang sudah dihaluskan ditambah dengan cabai rawit merah pedas.

Penyajian cuka saat dihidangkan pun bukan dengan cara dituangkan di dalam piring yang berisi pempek seperti orang-orang makan pempek pada umumnya di Jakarta, tetapi antara cuka dan pempek di pisah. Pempek dicocol atau dicelupkan ke dalam cuka yang dituang di wadah, barulah di lahap.

Selain itu, warung pempek asli Palembang biasanya menyajikan cuka di dalam botolan dan biasanya disajikan di setiap meja, bukan cuka yang sudah ditakar di dalam mangkok.

Bagaimana, mau mencoba cara makan pempek yang asli?

Advertisements

Menyulap Ikan Utuh Menjadi Berbagai Olahan

Kegiatan Pengolahan Ikan Lele Elora (dok. pribadi)
Kegiatan Pengolahan Ikan Lele Elora (dok. pribadi)

Pada zaman globalisasi saat ini, inovasi-inovasi yang berguna sangat diperlukan di bidang apapun, salah satunya di bidang perikanan. Biar tidak mottainai kalau kata partner saya. Singkat cerita, mottainai berasal dari bahasa Jepang yang berarti dibuang percuma atau mubazir. Penjelasan lebih rincinya yaitu segala sesuatu yang seharusnya bisa digunakan kembali tetapi tidak tahu bagaimana cara menggunakan atau memanfaatkannya.

Sama halnya dengan ikan, khususnya ikan lele. Ketika para penambak ikan lele dalam masa panen tetapi ternyata ada beberapa ikan hasil panennya sudah terlalu besar dan tidak laku di pasaran, mereka bingung mau diapakan ikan tersebut. Ada yang pada akhirnya dikonsumsi sendiri, tidak banyak juga yang akhirnya dibuang sia-sia atau dibiarkan mati begitu saja. Sayang banget, kan? Mereka tidak mendapat untuk dari si ikan lele jumbo itu malahan rugi.

Beberapa petambak ikan bersama para komunitasnya tidak tinggal diam. Contohnya adalah Komunitas Petani Lele di daerah Pringsewu, Lampung dan Republik Lele, Kediri, Jawa Timur. Mereka memutar otak dan menerapkan sistem zero waste dengan mengolah si ikan lele jumbo itu menjadi berbagai macam panganan olahan.

Rambak dan Hasil Olahan Lain
Rambak Kulit Ikan Lele

Satu badan si lele jumbo, yaitu dari kepala hingga buntut ini tidak ada yang tersisa sama sekali. Mereka habis diolah tanpa ada sisa. Daging si lele dijadikan abon, bagian kepala, duri dan buntut dijadikan stik ikan dan kulit mereka bisa dijadikan kerupuk rambak yang rasanya lebih gurih dan renyah dibandingkan rambak kulit sapi.

Selain itu, pengolahannya pun tidak begitu sulit namun membutuhkan beberapa alat produksi seperti spinner (mesin peniris minyak), oven serta kompor dan penggorengan. Akan tetapi alat-alat produksi itu bisa dipakai untuk membuat ketiganya (kecuali spinner karena biasanya khusus untuk abon).

Stik lele dan Abon Lele (dok. pribadi)
Stik lele dan Abon Lele (dok. pribadi)

Hasil dari produksi tersebut bisa dikemas dengan apik dan siap untuk dijual dengan bentuk lain dari si ikan yang dianggap mottainai itu.

Olahan Baru si Ikan Berkumis

bonile
Bonile (Abon Ikan Lele) olahan dari Lampung

Siapa yang tidak mengenal pecel lele? Sebagai orang Jakarta maupun pinggiran Jakarta,warung-warung tenda yang berderet di pinggir jalan menjajakan masakan ikan lele goreng plus sambal ini bukanlah hal asing. Bahkan, pecel lele bisa dibilang sebagai junk food nya Indonesia karena lumayan praktis dan harga tidak membuat kantong bolong.

Sekarang, si ikan air tawar berkumis ini tidak hanya disajikan di pinggiran jalan saja tetapi dengan inovasi lain. Di tangan para komunitas Ibu-ibu petani ikan atau Komunitas Wanita Tani (KWT) di Pringsewu, Lampung, ikan lele diolah menjadi abon ikan lele. Kualitas rasa daging ikan lele juga tidak kalah dibanding abon sapi maupun abon ayam. Dengan olahan baik, abon ikan lele ini dapat menipu lidah penikmatnya.

Abon ikan lele ini tidak hanya dinikmati dalam bentuk abon biasa saja, tetapi ada pula roti abon seperti roti yang ada di toko roti hits masa kini. Banyak yang tidak percaya dan saya sendiri pun tidak percaya kalau abon maupun roti abon yang dimakan itu berasal dari ikan lele karena tidak ada bau dan rasa amis sama sekali. Tekstur abonnya pun lembut dan padat.

Olahan ikan lele ini dikoordinasi oleh Ibu Suratin, Kelompok Wanita Tani (KWT) ikan lele di daerah Pringsewu, Lampung. Ia menjelaskan, abon ikan lele ini mulai berproduksi sejak tahun 2013 sampai saat ini dengan bantuan supervisi dari Politeknik Negeri Lampung (POLINELA) bekerja sama dengan Yayasan CP Prima.

Saat ini abon ikan lele sudah dipasarkan secara umum, namun penyebaran pasarnya masih di sekitar Lampung. Ibu Suratin berharap abon ikan lele dapat didistribusikan sampai ke luar Lampung, bahkan kalau bisa menjadi salah satu ikon oleh-oleh Khas Lampung.

Sensasi Sedap Asal Ranau

Gulai Pepenyok asal Lumbok, Lampung Barat
Gulai Pepenyok asal Lumbok, Lampung Barat

Tidak banyak memang orang yang mengenal danau cantik ini, seakan ia bersembunyi di antara daerah-daerah lain di Lampung yang lebih dikenal. Namun, datang ke tempat ini kita tidak hanya disajikan bentangan danau, bukit-bukit menjulang dan para nelayan yang mencari ikan di tengah danau, tetapi ada satu makanan khas Ranau yang dapat membuat lidah tak henti menari.

Adalah gulai pepenyok, gulai yang berbahan dasar ikan nila ditangkap langsung dari danau ini berbeda dari gulai ikan lain. Bentuk gulai ini perpaduan antara bumbu balado, bumbu pindang dengan sedikit santan. Kuahnya yang pedas dan berminyak tetapi terasa segar tanpa eneg.

Menurut penduduk setempat, awalnya Gulai Pepenyok ini disajikan untuk penyambutan orang-orang yang datang khusus ke Danau Ranau. Gulai ini dahulu tidak disajikan secara sembarang dan tergantung pesanan atau kegiatan di Danau tersebut. Tapi sekarang, Gulai Pepenyok ini sudah menjadi ikon kuliner khas Kecamatan Lumbok.

Menuju Ranau memang harus melewati jalan berliku dan hutan di kanan kiri, namun ketika sudah sampai di tempat tujuan, rasa lelah anda menempuh jalan berkelok-kelok terobati. Di sana ada beberapa pondok yang disewakan sebagai villa. Pondok dengan bentuk rumah panggung dari kayu khas Sumatera dan menghadap langsung ke Danau bisa menjadi salah satu alternatif destinasi wisata anda.