Republik Lele dalam Republik Indonesia

Catatan "Proklamasi" Republik Lele
Catatan “Proklamasi” Republik Lele

Ada bentuk pemerintahan republik di dalam Republik Indonesia? Tapi, republik ini memiliki rakyat yang bisa dibudidayakan. Pemimpinnya pun memiliki istana mewah dan mengklaim dirinya sebagai presiden. Republik apakah itu?

Adalah Republik Lele yang dikukuhkan di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur. HM Akas Alamuddin atau lebih akrab dikenal dengan Akas, sang presiden Republik Lele mem”proklamir”kan bentuk budidayanya pada tanggal 12 Desember 1985. Rumah sekaligus istananya ini memiliki luas sekitar 3 hektar dengan jumlah 620 petak kolam ikan lele. Kesuksesan Akas hingga membentuk Republik Lele tidaklah mudah. Butuh waktu puluhan tahun sampai ia memiliki “pemerintahan” sendiri.

Istana Lele Presiden HM Akas Alimuddin
Istana Lele Presiden HM Akas Alimuddin

Sejarah Awal Republik Lele

Akas mulai merintis usaha budidaya lele ini sejak tahun 1982. Sebelum membentuk kolam budidaya, presiden lele ini memulai dengan menggunakan gentong-gentong dipinggir sungai dan lele yang dibudidaya adalah jenis lele lokal atau lele jawa (clarias batracus). Pada tahun 1984, bertepatan dengan pengenalan ikan lele dumbo di Indonesia oleh pemerintah pada saat itu, Akas mulai beralih pandang dari lele lokal ke lele dumbo dengan menggunakan kolam. Menurut Akas, membudidayakan ikan lele dumbo ternyata tidak semudah yang ia pikirkan.

“Untuk produksi benih awal, masih melakukan pemijahan buatan yang lumayan repot,” ujarnya (sumber Trobos, 2012). Akan tetapi karena ia terus berusaha dengan dirundung rasa penasaran, pada akhirnya Akas mencoba memijah lele dumbo secara alami dan kemudian berhasil pada tahun 1987.

Merasa cukup untuk melakukan pembenihan lele, maka pada tahun 1992 Akas mengubah usaha menjadi pembesaran lele. Alasannya adalah karena pembenihan membutuhkan keterampilan individu dan sulit untuk diturunkan kepada orang lain. Sedangkan dalam metode pembesaran lele, lebih mudah dilakukan oleh orang-orang banyak, termasuk warga sekitar kolam milik Akas. Walaupun sulit, tetapi Akas berusaha untuk mengajari warga sekitar melakukan pembenihan yang baik. Hasilnya, tiap bulan Akas mendapat pasokan sekitar 2 juta ekor benih oleh 15-20 orang binaannya.

Asal Usul Nama Republik Lele

Akas mengatakan, nama Republik Lele yang ia cetuskan ini bukan hanya untuk memperlihatkan kesuksesannya membudidayakan ikan lele, akan tetapi nama ini adalah sebuah harapan Akas bahwa komoditas lele bisa menjadi tumpuan bagi kehidupan pembudidaya dan seluruh mata rantai ekonomi apabila dikerjakan dengan tekun.

Setelah Akas beralih ke lele dumbo, ia kemudian membuat kolam ikan di pekarangan rumahnya. Dimulai dari hanya 3 (tiga) petak kolam pembesaran lele pada tahun 1987, hingga saat ini berkembang menjadi 620 petak dengan besar 3 hektar.

Kolam tidak hanya di pekarangan dan dibelakang rumahnya saja, tetapi merambah hingga kandang domba dekat rumah yang ia kelola juga. Akas pun membantu warga sekitar desa untuk ikut serta membantu dalam budidaya ikan lele yang akhirnya bisa menghidupi warga sekitar.

Bisnis lele yang sukses tercapai

Saat ini, lele yang telah dipanen dari hasil budidaya Akas mencapai 70-80 ton per bulan dan bisa tembus lebih dari 100 ton per bulan. Karena itu ia tidak tinggal diam dan terus mengembangkan bisnis budidaya lele tersebut. Budidaya lele yang ia kembangkan juga ia lengserkan ke anak-anaknya. Salah satu anak Akas, Ita, mencoba untuk mengolah ikan lele menjadi beberapa bentuk panganan seperti abon, kerupuk rambak (kerupuk kulit) dan stik ikan.

Bisnis pengolahan ikan lele ini mulai berjalan dari tahun 2010 dengan nama ELORA. Berawal dari abon lele berbahan dasar daging ikan lele, kemudian Ita melakukan inovasi-inovasi lain yaitu membuat kerupuk rambak berasal dari kulit lele dan stik ikan dari duri, sehingga akhirnya lele diolah habis tanpa ada sisa.

Abon dan Stik Duri Lele Elora
Abon dan Stik Duri Lele Elora

Lele yang menjadi bahan olahan adalah lele jumbo, yaitu lele yang sudah terlalu besar dan tidak laku di pasaran, kemudian diolah menjadi berbagai macam makanan. Sebelum tercetus ide olahan, Akas memang sempat bingung ketika lele-lele jumbo tersebut tidak laku dijual.

Abon, kerupuk rambak maupun stik duri ikan lele produksi ELORA sekarang ini sudah terjual tidak hanya di area Pare, Kediri melainkan juga ke kota-kota besar di Jawa Timur serta Bali. Ita mengatakan, sampai saat ini produksi ELORA masih terus dikembangkan, baik dari segi rasa maupun pemasaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s