Antara Mitos Dan Kenyataan Pecel Lele Lamongan

Tenda Pecel Lele Lamongan (malesbanget.com)

Setelah mengetahui asal usul nama Pecel Lele Lamongan yang penyebarannya sangat banyak di Jakarta—dan pernah saya hitung, setiap 100 meter di jalan raya antara BSD ke arah Serpong di kiri atau kanan jalan terdapat warung pecel lele—ternyata di balik itu, ada mitos menarik yang perlu dikulik.

Pecel Lele yang berasal dari nama Pecek Lele memang berasal dari Lamongan. Tapi pada dasarnya, beberapa warga asli Lamongan sendiri pantang memakan ikan lele karena mitos turun temurun dari nenek moyang mereka. Terlihat dari lambang Kabupaten Lamongan sendiri, yaitu keris yang diapit oleh dua ekor ikan yaitu ikan lele dan ikan bandeng. Lambang tersebut bukan tanpa arti.

Menurut buku Sajen dan Ritual Orang Jawa oleh Wahyana Giri MC, ada cerita tentang alasan warga asli Lamongan pantang makan lele. Bermula dari Sunan Giri yang datang menyiarkan agama Islam di wilayah pesisir utara (pantura) Pulau Jawa, di antaranya ke Tuban, Lamongan, Gresik, hingga Surabaya. Kisah lele menjadi pantangan orang Lamongan ini terkait dengan kisah Mbah Boyopati–leluhur orang Lamongan.

Suatu waktu Sunan Giri singgah ke Lamongan dan bertandang ke rumah Mbok Rondo di Dusun Barang, Lamongan. Anggota Wali Songo yang punya nama lain Sultan Abdul Faqih ini, seperti biasanya melepas semua pusaka yang dia miliki agar kedatangannya tidak menakutkan.

Setelah bertamu dia lalu pulang. Ia kaget melihat ternyata tak satu pun pusakanya tersisa. Dia pun memanggil Ronggo Hadi sang penguasa Lamongan untuk ikut mencari pusakanya. Singkat cerita, Ronggo Hadi lalu meminta bantuan pemuda sakti bernama Boyopati mencari pusaka. Si pemuda sakti ini dengan mudah menemukan pusaka milik Sunan Giri itu.

Saat akan dibawa pulang, Joko Luwuk murid Sunan Giri ternyata kesengsem dengan pusaka milik gurunya itu. Joko Luwuk pun ingin merebut pusaka gurunya. Karena ingin mengamankan pusaka Sunan Giri sekaligus menyelamatkan diri dari kepungan bala pasukan Joko Luwuk, maka Boyopati memilih terjun ke dalam sungai yang dipenuhi ikan lele ganas.

Melihat sungai yang dipenuhi ikan lele, pasukan Joko Luwuk mengira Boyopati bakal mati dimakan lele.Tapi ternyata di luar dugaan, ikan lele itu tidak menggigit dan mematil Boyopati. Mereka justru mengamankan pemuda sakti itu.

Sambil meninggalkan sungai, Joko Luwuk bersumpah anak keturunannya tidak akan makan lele sampai kapan pun. Dan mitos mengenai keberadaan Boyopati di dasar sungai itu sampai sekarang masih dipercayai banyak warga Lamongan. Mereka menghormati ikan lele dan tidak akan memakan ikan lele.

Namun ada hal yang unik dibalik itu. Walaupun warga asli Lamongan pantang makan ikan lele karena menghormati cerita leluhurnya, para penjual pecel lele yang menyebar se-antero nusantara malahan berasal dari Lamongan. Maka tak heran, pecel lele Lamongan lah yang lebih terkenal selain soto ayamnya. Atau para penjual pecel lele Lamongan sudah bukan warga asli? Bisa jadi!

Advertisements

One thought on “Antara Mitos Dan Kenyataan Pecel Lele Lamongan

  1. Reza Fiqih Nurzaman 22 April 2015 / 1:01 pm

    wow keren sekali ceritanya mas

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s